BitungVoice – Kantor Bea
dan Cukai cabang Bitung kembali menjaring sebuah kapal tradisional tepatnya
jenis Kapal Layar Motor KLM Cakra yang melintasi perairan Sulawesi. Sayangnya,
dalam pemeriksaan rutin, kapal dimaksud terindikasi memuat bahan peledak. Kapal
tradisional berbenderakan RI ini dioperasikan oleh 6 orang ABK yang juga
berkewarganegaraan Indonesia, digelandang dari Laut sulawesi dan merapat ke
dermaga Pelabuhan Samudera Bitung, Rabu (24/9) dinihari tadi.
![]() |
| KLM Cakra |
Komandan operasi, Ariyanto, dalam
keterangannya kepada wartawan, menegaskan bahwa kapal tradisional bermotor itu
dihadang saat mengangkut material yang belum berani dipublikasikan dari negara
bagian Malaysia menuju ke Taliabu, Maluku Utara. “Kapal ini tertangkap dalam
operasi rutin di laut Sulawesi. Tertangkapnya tadi malam dan digelandang ke
sini dan merapat sekitar jam 11 malam,” ujarnya.
![]() |
| Herry Setiawan |
Sementara itu, Herry Setiawan, Kepala Seksi
Penindakan dan Penyidikan Kantor Bea dan Cukai Cabang Bitung, mengatakan bahwa kapal
KLM dimaksud tertangkap oleh operasi rutin yang dilakukan sendiri. Kapal dimaksud
juga tertangkap tanpa adanya perlawanan. Keenam ABK KLM dimaksud, sudah
diamankan untuk dimintai keterangan lanjutan. Sementara muatannya masih berada
diatas KLM dimaksud.
“Kami akan menggelar press
confferrence dengan melibatkan pihak Kapolsek KPS, juga Kapolres Bitung, besok
pagi. Semua data yang teman-teman wartawan butuhkan akan kami berikan dalam kesempatan
itu,” tegasnya.
![]() |
| Agus Atmawijaya |
Dalam kesempatan terpisah, Kepala
Seksi Penindakan dan Penyidikan Bea dan Cukai Kantor Wilayah Makassar, Agus
Atmawijaya, menerangkan bahwa pihaknya masih belum berani memberikan pernyataan
lebih banyak tentang tertangkapnya KLM Cakra dan terindikasikan bermuatan bahan
peledak.
Terkait adanya muatan berbahaya,
Atmawijaya menegaskan pihaknya tidak berani memberikan keterangan tentang itu,
karena berbahaya tidaknya isi mjuatan itu, tergantung pada pihak Kepolisian.
“Kalau ada muatan yang sudah
diturunkan sebelumnya, akan kami koordinasikan kembali. Sedangkan berbahaya
atau tidaknya, besok pagi jam 9 baru kami umumkan dalam kesempatan press
confferrence itu,” pungkasnya. (BV02)


