![]() |
BitungVoice - Idenya mengembara ke mana-mana. Sosok Dr Benny J Mamoto memang
tak lepas dari usahanya untuk menghidupkan budaya Minahasa dalam berbagai
aspek. Karenanya, Ketua Institut Seni Budaya Sulawesi Utara
(ISBSU) ini tidak hanya memaklumkan satu atau dua, melainkan tujuh
kekhasan budaya Minahasa. Ia membuat suatu gebrakan dan mendaftarkannya
pada badan World Guinnes of Records berupa 7 budaya Minahasa, antara lain:
terompet raksasa, nasi jaha terpanjang, peniup bia (alat tiup dari
kerang ) terbanyak dan tentu saja kain tenun Pinawetengan tanpa putus,
sepanjang 101 meter.
“Dengan
mengangkatnya ke tingkat dunia seperti pengakuan dari World
Guinnes of Records ini, saya berusaha mengedepankan kekayaan budaya kita
dengan cara tersendiri. Bayangkan berapa biayanya kalau saya harus
membuat billboard di jalan Thamrin,” kata Benny dalam
sambutan malam ‘The Enchanting Culture of Minahasa’.
Sosok perwira polisi yang ditakuti pengedar dan pengguna narkotika – Benny Mamoto berada di jajaran BNN ( badan Narkotika Nasional) yang banyak membuat gebrakan dalam membongkar kasus-kasus narkotika – adalah sosok yang lembut. Tutur katanya halus dan tearatur, senyumnya gampang merekah. Tetapi ia adalah orang yang tegas dalam prinsip. Termasuk dalam menggerakkan dan mengembangkan budaya daerah asal orang tuanya, Minahasa.
Ia menghidupkan kembali adat lama dengan mengadakan penelitian dan akhirnya menemukan bahwa di suatu tempat di Minahasa terdapat Watoe Pinawetengan tempat berikrarnya para kepala adat untuk tetap bersatu dalam menanggulangi berbagai masalah. Bagi Benny, hal ini juga dikembangkannya dalam kehidupan masa kini untuk kerukunan dan pengembangan kebudayaan. Salah satunya adalah menghidupkan kembali kerajinan tenun yang pernah jaya di masa lalu. Untuk ini istrinya, Iyarita W Mawardi, pimpinan PT Bilina Bina Cendekia, berperan dalam memproduksi dan mengembangkan motif tenun, baik dalam motif cetak tangan atau handmade printing ataupun motif-motif tenun yang terinspirasikan budaya yang ada di Minahasa. Thomas Sigar, desainer senior pun digandeng untuk mewujudkan hal ini.
Maka kolaborasi Benny dan Rita Mamoto tak hanya dalam hidup kekeluargaan tetapi juga dalam aktivitas pengembangan budaya. Termasuk menggerakkan musik kulintang yang pada malam budaya Minahasa itu menggemakan lagu: Sayang sayang si Patokaan… “(***)
