BitungVoice - Sistem
pembelajaran menggunakan Kurikulum 13 (K-13) pada setiap sekolah terus
dikeluhkan. Di samping buku-buku untuk siswa dan guru belum tersalur
sepenuhnya, proses belajar-mengajar pun ikut terhambat.
![]() |
| Julius Ondang,S.Pd,M.Pd (KM) |
Salah satu
yang menjadi kendala adalah pemadaman listrik oleh pihak PLN yang kerap terjadi
belakangan ini, ternyata berdampak juga pada proses penerapan K-13. Ujung-ujungnya,
pembelajaran dengan menggunakan audio visual seperti Proyektor Slide tidak bisa
dijalankan sebagaimana mestinya.
Belum lagi sistem
pembelajaran menggunakan komputer, juga tak bisa dioperasikan secara maksimal. Bahkan
pemadaman yang kerap terjadi justru berimbas rusaknya peralatan elektronik (khususnya
komputer-Red) yang dimiliki.
Salah satunya
yang mengeluhkan pemadaman yang berdampak pada sistim pembelajaran ini adalah
SMAN 2 Kota Bitung. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Kepala SMAN 2 Bitung,
Julius Ondang, kepada wartawan, Jumat (3/10).
“Pemadaman listrik
yang tak beraturan ini mengakibatkan beberapa komputer sekolah rusak dan
meledak. Hasilnya, kami tidak bisa menjalankan kurikulum (K-13) dengan
maksimal,” jelasnya.
Ondang juga menegaskan
bahwa sebagian besar sekolah di Kota Bitung tidak memiliki Generator Set
(Genset). Kalaupun ada sekolah yang memiliki Genset, pemakaiannya juga
terbatas, dikarenakan tidak diimbangi dengan biaya operasional yang memadai.
“Karena itu hanya disediakan
apabila terjadi listrik padam. Kenyataannya, sudah setiap hari terjadi
pemadaman. Dari mana sekolah punya biaya untuk operasional genset? Ini seharusnya
jadi pertimbangan bagi pihak penyedia jasa listrik, sehingga kami dari pihak
sekolah pun tidak dirugikan,” pungkasnya. (BV02)
