BitungVoice – Dalam kurun
waktu kurang dari sebulan, ternyata kasus kriminal mulai marak di Kota Bitung. Dimulai
dari perasaan tidak senang, cemburu hingga dendam, akhirnya berujung kekerasan yang
tak jarang berujung kematian bgi korban kekerasan.
Dalam sebulan saja, sudah belasan
kasus kekerasan yang terjadi dengan menggunakan enjata tajam (sajam) jenis
panah wayer dan parang. Ironinya, pelaku kekerasan ini ternyata masih berusia
antara 20 tahun hingga 30 tahunan. Alhasil, banyak warga yang memilih untuk
tidak keluar malam karena suasana kota yang mulai tidak kondusif.
Menelisik akan peningkatan kasus
kriminal yang berujung kekerasan dan kematian ini, anggota DPRD Pokja II, Sjam
Panai pun angkat bicara. Menurutnya, terjadinya kekerasan dan kasus kriminal
dalam masyarakat ibarat trendy fashion maupun tangga lagu, yang semakin hari
semakin menanjak.
Panai meminta agar aparat pemerintahan
turut berperan aktif dalam menjaga kekondusifan di Kota Bitung. Salah satunya
adalah dengan menggalakkan Sistim Keamanan Lingkungan (Siskamling). Selain itu,
fungsi Kepala Lingkungan (Pala) sedianya berperan aktif dalam menyelesaikan
setiap permasalahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Sehingga beban
ketertiban dan keamanan di Kota Bitung, menurutnya, tidak sepenuhnya
dititikberatkan kepada pihak kepolisisian saja, melainkan menjadi tugas dan
tanggung jawab semua pihak.
“Yang saya heran, semenjak dahulu
warga pasti keder nyalinya kalau dengan ada Pala atau Lurah yang datang
menengahi sebuah masalah. Yang terjadi justru tidak demikian. Belum lagi
Siskamling itu tidak berjalan. Karena itu siskamling harus dijalankan dan
aparat pemerintahan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat yang harus
menegakkannya. Itu berarti Pala dan Lurah juga harus terlibat,” ujarnya.
Panai juga meminta kepada warga Kota
Bitung agar tidak mendiskreditkan pihak kepolisian dalam hal ini, mengingat
kepolisian sendiri sudah berupaya maksimal dalam menjalankan tugas dan tanggung
jawabnya.
“Bukan salah kepolisian kalau kondusi
mulai tidak kondusif. Mungkin aparat kepolisian harus harus ditambah, sehingga
komparasinya 1 polisi mengayomi 100 warga bisa terpenuhi. Namun yang terpenting
adalah kesadaran dalam diri warga itu sendiri, kemudian ditopang dengan
lingkungan yang benar-benar steril dari pengaruh negatif, baru kemudian
intervensi dari luar seperti adanya apart keamanan maupun aparat pemerintahan,”
tegasnya.
Sementara itu, Kapolresta Bitung, AKBP
Hari Sarwono,S.Ik,M.Hum, dalam keterangannya kepada wartawan via HandPhone,
membenarkan bahwa pihaknya sementara dan terus menggalakkan operasi dan razia
sajam.
“Yang rutin kami lakukan adalah razia
sajam, miras dan obat-obatan terlarang, maupun judi. Kami sangat butuh
kerjasama dari masyarakat dalam membantu kami meminimalisir kriminalitas yang
sedang marak ini. Karena, tanpa bantuan aktif dari masyaraat kaim tidak bisa
menjalankan tugas kami sebagaimana mestinya. Untuk itu, kalau ada warga yang
sudah melihat dan mendengarkan maupun menyaksikan adanya tindakan kriminal agar
segera melaporkan kepada kami,” pungkasnya. (BV01)